(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'd 13 : 28)
Wednesday, June 20, 2012
KURMA MEMBUAT HATI TENANG DAN TENTRAM
Dr. Muhammad Hasyim dalam kitab Al-Adawiyah wa al-Qurany menyebutkan bahwa buah kurma dapat mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi hati yang resah dan gelisah. Menurutnya, kurma juga bisa menenangkan kondisi hati yang resah, gelisah dan gugup yang diakibatkan oleh aktivitas kelenjar gondok yang membenjol di bagian depan leher ketika naik pengeluarannya. Sejumlah dokter juga menyarankan agar setiap anak yang mudah gugup agar diberi makan buah kurma antara 3-9 buah setiap pagi.
Buah kurma mengandung vitamin A berkadar tinggi, menyamai kadar yang terdapat pada minyak ikan dan keju. Diantara manfaat vitamin A adalah; dapat menjaga mata agar tetap basah (lembab) dan berkilau, menguatkan otot-otot penglihatan, mencegah kekeringan pelupuk mata, rabun mata, dan kekeringan kulit. Kurma mengandung vitamin B1 dan B2 yang membantu menguatkan otot-otot dan melenturkan pembuluh-pembuluh darah, sehingga bisa terhindar dari kondisi sembelit yang kronis.
Buah kurma yang belum matang bisa dijadikan obat untuk menghentikan penyakit diare dan sembelit. Buah ini secara aktif dipergunakan untuk proses pembakaran (metabolisme), menghentkan pengeluaran darah (hemophilla), dan menguatkan ginjal yang lemah, menghentikan batuk yang sudah akut, sakit dada, membersihkan dahak, menimbulkan darah kuat, dan memperbaiki sakit punggung. Sedangkan kurma matang dapat menguatkan otot-otot rahim dan mengatur disiplin kerja otot.
Top of Form
Bila kau melihat dunia ini
Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya, bila kau lihat semua ini, berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan kerananya, mengeluarkan bau busuk.
Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memerhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bahagiamu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya.
Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan karunia Tuhan-Mu lebih baik dan lebih kekal.
================================================
Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid'ah, patuhilah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbahkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya.
Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun.
Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.
Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.
Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah.
Saling mencintailah dan jangan saling mendendam.
Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.
Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya.
================================================
Ya Allah,, aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosaku.
Aku bertaubat kepada-Mu darinya yang kemudian aku mengulangi-nya.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas amal yang tujuannya untuk-Mu, tetapi dicampuri hal-hal yang tidak Engkau ridhai.
Shalawat dan salam sebanyak-banyaknya tetaplah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat beliau.
Segala puji adalah kepunyaan Allah Penguasa alam semesta.
================================================
Aku memohon ampun kepada-Mu atas penghianatanku terhadap janji-Mu padaku, dan aku mohon ampun kepada-Mu atas pelanggaran terhadap sesuatu yang terlarang.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala nikmat pemberian-Mu kepadaku, kemudian aku menyalahgunakannya pada perbuatan durhaka.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala dosa yang tiada pengampunannya kecuali Engkau, dan tidak menampakkannya kepada seseorangpun selain kepada-Mu, dan tidak melapangkannya kecuali rahmat dan santunan-Mu, dan tidak dapat selamat darinya kecuali atas ampunan-Mu.
Aku mohon ampun kepada-Mu dari setiap sumpah yang aku langgar, dan aku memohon ampun kepad-Mu hai Dzat Yang Tiada Tuhan lain kecuali Engkau, Yang mengetahui barang gaib dan nyata, dari setiap kejahatan yang aku lakukan di siang hari bolong ataupun di malam gelap gulita, tersembunyi atau terang-terangan.
Engkau senantiasa melihat aku, setiap aku melakukan maksiat pasti Engkau melihatnya, baik perilaku yang aku sengaja, salah ataupun lupa, hai Dzat Yang Penyantun lagi Pemurah. Aku mohon ampun kepada-Mu yang tiada Tuhan lain kecuali Engkau, Maha Suci Engkau bahwasanya aku menganiaya diri, Ya Allah ampunilah aku dan kasihanilah serta terimalah taubatku, Engkau sebaik-baik dan Maha Pengasih.
================================================
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetapan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya.
Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah.
Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktikkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab.
Mengenai hikmah dan keadaan rohani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahawa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari.
Diriwayatkan pula, bahawa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada malam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah.
Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, kerana sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah.
Karena,, dengan begini, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai pusaka dari Nabi Adam as. 'BAPAK' manusia, dan pilihan Allah.
================================================
Dunia Dihuni Oleh Empat Ragam Manusia,,,
Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia.
Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh, Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama.
Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan dan Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji.
Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama.
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153892691412670&set=a.153892688079337.32021.100003758200006&type=1
Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memerhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bahagiamu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya.
Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan karunia Tuhan-Mu lebih baik dan lebih kekal.
================================================
Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid'ah, patuhilah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbahkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya.
Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun.
Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran.
Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah.
Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah.
Saling mencintailah dan jangan saling mendendam.
Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya.
Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya.
================================================
Ya Allah,, aku memohon ampun kepada-Mu dari setiap dosaku.
Aku bertaubat kepada-Mu darinya yang kemudian aku mengulangi-nya.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas amal yang tujuannya untuk-Mu, tetapi dicampuri hal-hal yang tidak Engkau ridhai.
Shalawat dan salam sebanyak-banyaknya tetaplah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat beliau.
Segala puji adalah kepunyaan Allah Penguasa alam semesta.
================================================
Aku memohon ampun kepada-Mu atas penghianatanku terhadap janji-Mu padaku, dan aku mohon ampun kepada-Mu atas pelanggaran terhadap sesuatu yang terlarang.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala nikmat pemberian-Mu kepadaku, kemudian aku menyalahgunakannya pada perbuatan durhaka.
Aku memohon ampun kepada-Mu atas segala dosa yang tiada pengampunannya kecuali Engkau, dan tidak menampakkannya kepada seseorangpun selain kepada-Mu, dan tidak melapangkannya kecuali rahmat dan santunan-Mu, dan tidak dapat selamat darinya kecuali atas ampunan-Mu.
Aku mohon ampun kepada-Mu dari setiap sumpah yang aku langgar, dan aku memohon ampun kepad-Mu hai Dzat Yang Tiada Tuhan lain kecuali Engkau, Yang mengetahui barang gaib dan nyata, dari setiap kejahatan yang aku lakukan di siang hari bolong ataupun di malam gelap gulita, tersembunyi atau terang-terangan.
Engkau senantiasa melihat aku, setiap aku melakukan maksiat pasti Engkau melihatnya, baik perilaku yang aku sengaja, salah ataupun lupa, hai Dzat Yang Penyantun lagi Pemurah. Aku mohon ampun kepada-Mu yang tiada Tuhan lain kecuali Engkau, Maha Suci Engkau bahwasanya aku menganiaya diri, Ya Allah ampunilah aku dan kasihanilah serta terimalah taubatku, Engkau sebaik-baik dan Maha Pengasih.
================================================
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetapan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya.
Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah.
Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktikkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab.
Mengenai hikmah dan keadaan rohani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahawa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari.
Diriwayatkan pula, bahawa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada malam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah.
Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, kerana sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah.
Karena,, dengan begini, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai pusaka dari Nabi Adam as. 'BAPAK' manusia, dan pilihan Allah.
================================================
Dunia Dihuni Oleh Empat Ragam Manusia,,,
Pertama, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan dan ilmu pengetahuan lalu bertakwa kepada Robbnya, menyantuni sanak-keluarganya dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atasnya maka dia berkedudukan paling mulia.
Kedua, seorang yang diberi Allah ilmu pengetahuan saja, tidak diberi harta, tetapi dia tetap berniat untuk bersungguh-sungguh, Sebenarnya jika memperoleh harta dia juga akan berbuat seperti yang dilakukan rekannya (kelompok yang pertama). Maka pahala mereka berdua ini adalah (kelompok pertama dan kedua) sama.
Ketiga, seorang hamba diberi Allah harta kekayaan tetapi tidak diberi ilmu pengetahuan dan Dia membelanjakan hartanya dengan berhamburan (foya-foya) tanpa ilmu (kebijaksanaan). Ia juga tidak bertakwa kepada Allah, tidak menyantuni keluarga dekatnya, dan tidak memperdulikan hak Allah. Maka dia berkedudukan paling jahat dan keji.
Keempat, seorang hamba yang tidak memperoleh rezeki harta maupun ilmu pengetahuan dari Allah lalu dia berkata seandainya aku memiliki harta kekayaan maka aku akan melakukan seperti layaknya orang-orang yang menghamburkan uang, serampangan dan membabi-buta (kelompok yang ketiga), maka timbangan keduanya sama.
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153892691412670&set=a.153892688079337.32021.100003758200006&type=1
Tuesday, June 19, 2012
JANGAN TERTIPU PUJIAN ORANG LAIN
Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dala...m hatinya.”[1]”
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka][2]
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=455615561115832&set=a.102456903098368.5061.100000021760398&type=1#!/
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka][2]
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=455615561115832&set=a.102456903098368.5061.100000021760398&type=1#!/
SEDEKAH TIDAK MENGURANGI HARTA
Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta ... Yakinlah!
Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,
لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ
“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”
Dalam riwayat lain disebutkan,
أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut[1]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”[2]
Hadits ini dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”, hadits no. 559 (60/16).
Beberapa faedah hadits:
Pertama: Hadits di atas memberikan motivasi untuk berinfaq.[3] Bukhari sendiri membawakan hadits ini dalam Bab “Motivasi untuk bersedekah (mengeluarkan zakat) dan memberi syafa’at dalam hal itu”. An Nawawi membuat bab untuk hadits ini “Motivasi untuk berinfaq (mengeluarkan zakat) dan larangan untuk menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan).”
Kedua: Hadits ini menunjukkan tercelanya sifat bakhil dan pelit.
Ketiga: Hadits di atas menunjukkan bahwa al jaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amalan perbuatan.[4]
Keempat: Ibnu Baththol menerangkan riwayat pertama di atas dengan mengatakan, “Janganlah engkau menyimpan-nyimpan harta tanpa mensedekahkannya (menzakatkannya). Janganlah engkau enggan bersedekah (membayar zakat) karena takut hartamu berkurang. Jika seperti ini, Allah akan menahan rizki untukmu sebagaimana Allah menahan rizki untuk para peminta-minta.”[5]
Kelima: Menyimpan harta yang terlarang adalah jika enggan mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta tersebut. Itulah yang tercela.[6]
Keenam: Hadits ini menunjukkan larangan enggan bersedekah karena takut harta berkurang. Kekhawatiran semacam ini adalah sebab hilangnya barokah dari harta tersebut. Karena Allah berjanji akan memberi balasan bagi orang yang berinfaq tanpa batasan. Inilah yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani.[7]
Ketujuh: Bukhari dan Muslim sama-sama membawakan hadits di atas ketika membahas zakat. Ini menunjukkan bahwa yang mesti diprioritaskan adalah menunaikan sedekah yang wajib (yaitu zakat) daripada sedekah yang sunnah.
Kedelapan: Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini menunjukkan sedekah (zakat) itu dapat mengembangkan harta. Maksudnya adalah sedekah merupakan sebab semakin berkah dan bertambahnya harta. Barangsiapa yang memiliki keluasan harta, namun enggan untuk bersedekah (mengeluarkan zakat), maka Allah akan menahan rizki untuknya. Allah akan menghalangi keberkahan hartanya. Allah pun akan menahan perkembangan hartanya.”[8]
Kesembilan: Sedekah tidaklah mengurangi harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”[9]
Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:
Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan.
Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.[10]
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan hadits di atas dengan mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya semata. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta”. Kalau dilihat dari sisi jumlah, harta tersebut mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari hakekat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita bersedekah dengan 10 riyal, lalu Allah beri ganti dengan 100 riyal. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”. -Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah[11]-.
Alhamdulillah, beberapa faedah sangat berharga telah kita gali dari hadits di atas. Semoga hal ini semakin mendorong kita untuk mengeluarkan zakat yang nilainya wajib dan sedekah-sedekah lainnya. Perhatikanlah syarat nishob dan haul setiap harta kita yang berhak untuk dizakati. Semoga Allah selalu memberkahi harta tersebut.
Namun ingatlah, tetapkanlah niatkan sedekah dan zakat ikhlas karena Allah dan jangan cuma mengharap keuntungan dunia semata. Kami mohon pembaca bisa baca artikel menarik lainnya di sini: Amat disayangkan, banyak sedekah hanya untuk memperlancar rizki.
Semoga penjelasan ini dapat menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=455615561115832&set=a.102456903098368.5061.100000021760398&type=1#!/permalink.php?story_fbid=354849027917011&id=197674079227
Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,
لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ
“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”
Dalam riwayat lain disebutkan,
أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ
“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut[1]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”[2]
Hadits ini dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”, hadits no. 559 (60/16).
Beberapa faedah hadits:
Pertama: Hadits di atas memberikan motivasi untuk berinfaq.[3] Bukhari sendiri membawakan hadits ini dalam Bab “Motivasi untuk bersedekah (mengeluarkan zakat) dan memberi syafa’at dalam hal itu”. An Nawawi membuat bab untuk hadits ini “Motivasi untuk berinfaq (mengeluarkan zakat) dan larangan untuk menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan).”
Kedua: Hadits ini menunjukkan tercelanya sifat bakhil dan pelit.
Ketiga: Hadits di atas menunjukkan bahwa al jaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amalan perbuatan.[4]
Keempat: Ibnu Baththol menerangkan riwayat pertama di atas dengan mengatakan, “Janganlah engkau menyimpan-nyimpan harta tanpa mensedekahkannya (menzakatkannya). Janganlah engkau enggan bersedekah (membayar zakat) karena takut hartamu berkurang. Jika seperti ini, Allah akan menahan rizki untukmu sebagaimana Allah menahan rizki untuk para peminta-minta.”[5]
Kelima: Menyimpan harta yang terlarang adalah jika enggan mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta tersebut. Itulah yang tercela.[6]
Keenam: Hadits ini menunjukkan larangan enggan bersedekah karena takut harta berkurang. Kekhawatiran semacam ini adalah sebab hilangnya barokah dari harta tersebut. Karena Allah berjanji akan memberi balasan bagi orang yang berinfaq tanpa batasan. Inilah yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani.[7]
Ketujuh: Bukhari dan Muslim sama-sama membawakan hadits di atas ketika membahas zakat. Ini menunjukkan bahwa yang mesti diprioritaskan adalah menunaikan sedekah yang wajib (yaitu zakat) daripada sedekah yang sunnah.
Kedelapan: Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini menunjukkan sedekah (zakat) itu dapat mengembangkan harta. Maksudnya adalah sedekah merupakan sebab semakin berkah dan bertambahnya harta. Barangsiapa yang memiliki keluasan harta, namun enggan untuk bersedekah (mengeluarkan zakat), maka Allah akan menahan rizki untuknya. Allah akan menghalangi keberkahan hartanya. Allah pun akan menahan perkembangan hartanya.”[8]
Kesembilan: Sedekah tidaklah mengurangi harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”[9]
Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:
Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan.
Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.[10]
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan hadits di atas dengan mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya semata. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta”. Kalau dilihat dari sisi jumlah, harta tersebut mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari hakekat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita bersedekah dengan 10 riyal, lalu Allah beri ganti dengan 100 riyal. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”. -Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah[11]-.
Alhamdulillah, beberapa faedah sangat berharga telah kita gali dari hadits di atas. Semoga hal ini semakin mendorong kita untuk mengeluarkan zakat yang nilainya wajib dan sedekah-sedekah lainnya. Perhatikanlah syarat nishob dan haul setiap harta kita yang berhak untuk dizakati. Semoga Allah selalu memberkahi harta tersebut.
Namun ingatlah, tetapkanlah niatkan sedekah dan zakat ikhlas karena Allah dan jangan cuma mengharap keuntungan dunia semata. Kami mohon pembaca bisa baca artikel menarik lainnya di sini: Amat disayangkan, banyak sedekah hanya untuk memperlancar rizki.
Semoga penjelasan ini dapat menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=455615561115832&set=a.102456903098368.5061.100000021760398&type=1#!/permalink.php?story_fbid=354849027917011&id=197674079227
Waspadai Si Pencuri Hati
Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar
Ada pertanyaan ringan, akan tetapi sangat penting ditelusuri; pernahkah kita galau, resah atau gelisah? Jikalau ya, kita patut waspada dan intropeksi diri. Jangan-jangan ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Bisa jadi tuhan-tuhan selain Allah mulai menguasai diri kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tetap bersikap tenang dan pura-pura tidak sadar? Atau membiarkan diri kita semakin terjerumus dalam kegalauan itu? Kembali ke jalan-Nya adalah solusi terbaik untuk permasalahan yang Anda alami. Tidak ada lagi tempat kembali selain Dia. Dia Yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Dialah yang Melihat dan Mengetahui segala sesuatu tentang diri kita.
Sayang sering kali kita membiarkan dunia beserta permasalahan-permasalahannya mengisi hati kita, dan hal itulah yang membuat hati tidak tenang. Contohnya, seorang nenek yang sibuk memperhatikan cucunya, seorang gadis yang terus memikirkan baju-baju yang ia inginkan, atau seseorang yang sedang jatuh cinta sibuk dengan kekasihnya seakan-akan hal-hal itulah yang mereka perlukan. Padahal itulah permasalahan yang paling mengkhawatirkan ketika mereka lebih takut jauh dari hal-hal duniawi dari pada dekat dengan Allah. Padahal hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan tenang. Makin penuh hati kita dengan mengingat Allah, maka hati pun akan semakin tenang karena Ia-lah penguasa hati kita.
Poin lain yang bisa menggaggu ketenangan hati yakni ketika kita bergantung pada penilaian makhluk. Dalam hal ini, keikhlasan nampak begitu samar bahkan bisa jadi tak nampak sama sekali. Kebaikan yang kita lakukan hanya karena ingin orang lain menyukai dan memuji kita. Namun, sebenarnya apa yang kita cari dari pujian itu karena tidak ada keuntungannya sama sekali; bahkan pujian-pujian itu hanya dapat mengelabui hati kita hingga kita jauh dari berpasrah kepada Allah.
Ada tiga golongan manusia yang tidak diterima penghisabannya oleh Allah:
1. Orang yang meninggal di medan perang hanya karena ingin disebut pejuang.
2. Orang yang belajar memahami al-quran dan ilmu-ilmu Allah, akan tetapi hatinya dipenuhi oleh pengharapan atas penilaian manusia sebagai orang berilmu.
3. Beribadah dengan hati didominasi oleh makhluk. Mungkin malaikat dan makhluk ciptaan Allah tidak tahu apa isi hati kita, namun Allah Maha Mengetahui apa yang kita bisikan dalam hati. Oleh karena itu kita harus cek siapa yang ada di dalam hati karena semua ada hisabnya dan tujuan kita harus tetap Allah.
Ketika ada permasalahan, haruslah ada jalan keluarnya. Dan cara yang bisa dilakukan untuk mengikis pendominasi-pendominasi selain Allah adalah:
1. Minta pertolongan/perlindungan kepada Allah dari menyekutukan-Nya.
2. Isi terus hati dengan dzikrullah, walau hati belum ingat kepada-Nya, terus saja sebut nama Allah karena kelak Allah akan mengalihkan dzikir kita yang lalai menuju ketaatan asalkan kita bersungguh-sungguh. Akan tetapi, jangan sampai dzikir-dzikir yang kita lakukan malah menimbulkan masalah yang baru dengan overacting ingin dipuji orang lain.
3. Jika kita ingat si pencuri hati, jangan lama terbuai. Ingat rumus “bungkus” yakni bungkus masalah dan langsung serahkan kepada Allah. Dengan berpasrah kepada Allah, Allah akan membimbing dan memberikan solusi kepada kita.
Dengan demikian pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk mengurangi bahkan menghapus kegelisahan-kegelisahan dalam hati kita adalah kita harus memeriksa siapa yang ada dalam hati kita. Jika si pengisi hati adalah selain Allah, maka tak heran kita akan terus gelisah atau jauh dari ketenangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)