Tuesday, June 19, 2012

Waspadai Si Pencuri Hati


Oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar
doa
Ada pertanyaan ringan, akan tetapi sangat penting ditelusuri; pernahkah kita galau, resah atau gelisah? Jikalau ya, kita patut waspada dan intropeksi diri. Jangan-jangan ada sesuatu yang salah dalam diri kita. Bisa jadi tuhan-tuhan selain Allah mulai menguasai diri kita. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Tetap bersikap tenang dan pura-pura tidak sadar? Atau membiarkan diri kita semakin terjerumus dalam kegalauan itu? Kembali ke jalan-Nya adalah solusi terbaik untuk permasalahan yang Anda alami. Tidak ada lagi tempat kembali selain Dia. Dia Yang Maha Besar dan Maha Kuasa, Dialah yang Melihat dan Mengetahui segala sesuatu tentang diri kita.
Sayang sering kali kita membiarkan dunia beserta permasalahan-permasalahannya mengisi hati kita, dan hal itulah yang membuat hati tidak tenang. Contohnya, seorang nenek yang sibuk memperhatikan cucunya, seorang gadis yang terus memikirkan baju-baju yang ia inginkan, atau seseorang yang sedang jatuh cinta sibuk dengan kekasihnya seakan-akan hal-hal itulah yang mereka perlukan. Padahal itulah permasalahan yang paling mengkhawatirkan ketika mereka lebih takut jauh dari hal-hal duniawi dari pada dekat dengan Allah. Padahal hanya dengan mengingat Allah-lah hati akan tenang. Makin penuh hati kita dengan mengingat Allah, maka hati pun akan semakin tenang karena Ia-lah penguasa hati kita.
Poin lain yang bisa menggaggu ketenangan hati yakni ketika kita bergantung pada penilaian makhluk. Dalam hal ini, keikhlasan nampak begitu samar bahkan bisa jadi tak nampak sama sekali. Kebaikan yang kita lakukan hanya karena ingin orang lain menyukai dan memuji kita. Namun, sebenarnya apa yang kita cari dari pujian itu karena tidak ada keuntungannya sama sekali; bahkan pujian-pujian itu hanya dapat mengelabui hati kita hingga kita jauh dari berpasrah kepada Allah.
Ada tiga golongan manusia yang tidak diterima penghisabannya oleh Allah:
1. Orang yang meninggal di medan perang hanya karena ingin disebut pejuang.
2. Orang yang belajar memahami al-quran dan ilmu-ilmu Allah, akan tetapi hatinya dipenuhi oleh pengharapan atas penilaian manusia sebagai orang berilmu.
3. Beribadah dengan hati didominasi oleh makhluk. Mungkin malaikat dan makhluk ciptaan Allah tidak tahu apa isi hati kita, namun Allah Maha Mengetahui apa yang kita bisikan dalam hati. Oleh karena itu kita harus cek siapa yang ada di dalam hati karena semua ada hisabnya dan tujuan kita harus tetap Allah.
Ketika ada permasalahan, haruslah ada jalan keluarnya. Dan cara yang bisa dilakukan untuk mengikis pendominasi-pendominasi selain Allah adalah:
1. Minta pertolongan/perlindungan kepada Allah dari menyekutukan-Nya.
2. Isi terus hati dengan dzikrullah, walau hati belum ingat kepada-Nya, terus saja sebut nama Allah karena kelak Allah akan mengalihkan dzikir kita yang lalai menuju ketaatan asalkan kita bersungguh-sungguh. Akan tetapi, jangan sampai dzikir-dzikir yang kita lakukan malah menimbulkan masalah yang baru dengan overacting ingin dipuji orang lain.
3. Jika kita ingat si pencuri hati, jangan lama terbuai. Ingat rumus “bungkus” yakni bungkus masalah dan langsung serahkan kepada Allah. Dengan berpasrah kepada Allah, Allah akan membimbing dan memberikan solusi kepada kita.
Dengan demikian pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk mengurangi bahkan menghapus kegelisahan-kegelisahan dalam hati kita adalah kita harus memeriksa siapa yang ada dalam hati kita. Jika si pengisi hati adalah selain Allah, maka tak heran kita akan terus gelisah atau jauh dari ketenangan.

No comments:

Post a Comment