Assalaamu'alaikum Wr Wb
Kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir berseling mewarnai panjangnya hidup ini... kualitas kesabaran memang akan selalu di uji sepanjang upaya kita mencapai akhir... namun adakalanya kita pun mampu bersikap menuliskan setiap memori yang ada di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi bersama terbangnya angin ketulusan..
Saia mengucapkan Selamat Berhari Ramadhan. Mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan.. kiranya semasa hidup bersimbah khilaf dan dosa...
kita bersihkan hati, agar ramadhan kelak tak tersirat satupun kebencian dalam hati kita semua.. mohon maaf lahir batin ya ^_^
wassalamu'alaikum wr wb
Doa menjelang masuk bulan ramadhan : "Allahumma sallimnii liramahdan, wasallim ramadhana liii, wasalimhu mutaqabbalan" artinya " Ya Alloh selamatkanlah kami di bulan ramadhan, dan selamatkanlah ramadhan bagi kami, terima dan selamatkanlah amalan kami di bulan ramadhan" amin
" Do’a Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan "
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
* Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
* Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri;
* Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali.
Bismilah,,, Semilir Kesejukan dan Semburat Kewangian Bulan Penuh Berkah yang Telah Menyapa memancar dari seluruh Penjuru Bumi. Ibadah Wajib harus tetap dimaksimalkan, dzikir harus tetap dilafadzkan, ayat suci harus kencang d kumandangkan, tadzabur ayat harus di rutinkan juga dijalankan, dan Do'a harus Banyak di panjatkan. 'Marhaban Ya Ramadhan' Syahrut Tarbiyan Bina Diri Raih Ridho Ilahi...
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra'd 13 : 28)
Sunday, August 08, 2010
Wednesday, August 04, 2010
Impian Tuk Sayangi Mereka
Hari itu, aku melihat seorang anak yang berpakaian lusuh dan cukup kotor menuju rumah salah seorang temannya. Pakaiannya itu sebenarnya berwarna putih, tapi menjadi kecoklatan dengan bercak-bercak hitam di beberapa sisi. Dia menyandang tas samping. Awlnya ku fikir ia tengah mengajak temannya bermain selepas bermain dengan teman yang sebelumnya. Ternyata bukan, dia memanggil temannya itu untuk pergi mengaji. Aku langsung heran dan bertanya kepada salah seorang Ibu yang menurutku tahu tentang anak itu.
“Ibu, kenapa pakaian anak itu kotor ? Bukankah dia mau pergi mengaji? Kenapa dia tidak mengganti pakaiannya?” Tanyaku.
”Itu memang pakaian mengajinya. Orang tuanya sepertinya tidak mempedulikannya, makanya dia selalu berpenampilan demikian meskipun untuk pergi mengaji sekalipun. Selain karena kurangnya perhatian, dia itu memang berasal dari keluarga kurang mampu.” Jawab sang Ibu tersebut.
”Kasihan sekali kita melihatnya.” Lanjut Ibu itu.
Sedikit meluangkan waktu dan karena sedikit penasaran, aku bertanya lagi kepada Ibu itu mengenai anak tersebut. ”Ibu,.. Maaf, apa Ibu dari anak itu masih ada? Ayahnya? Bagaimana dengan saudaranya yang lain? Kakaknya apakah ada? Dan rumahnya di mana?
Ibu itu menjawab,”Ibunya masih ada. Ayahnya sudah tidak tinggal bersamanya karena kedua orang tuanya bercerai. Dia itu anak satu-satunya. Jadi, sekarang dia hanya tinggal bertiga bersama Ibu dan neneknya di rumah sederhana yang juga sudah tinggal satu kamar itu akibat gempa kemaren.”
Ya Allah…. Anak sekecil itu harus mendapatkan cobaan yang demikian??
Dia hidup dalam kekurangan materi, lalu apakan harus dia juga hidup kekurangan kasih sayang orang tuanya dan orang-orang sekitarnya??
Pernahkah terfikir oleh kita bahwa di sekitar kita masih banyak peri-peri kecil yang butuh kasih sayang kita??
Tuhan,,, Melihatnya aku takut…
Aku takut jika sekarang, esok, atau sampai saat nanti ia hidup tanpa tahu bagaimana rasa sayang hingga ia menjadi anak yang tidak pandai menyayangi.
Aku takut jika ia tumbuh menjadi anak yang selalu merasa rendah diri karena kekuranggannya dan karena tidak ada seorang pun yang menghargai serta mengacuhkannya.
Wahai engkau bocah kecilku… Adikku…
Andai aku punya istana yang di dalamnya hidup malaikat-malaikat penuh kasih sayang, maka engkau sekalian akan ku biarkan menikmatinya sepuas hatimu walau aku harus hidup di kejamnya panas mentari di luar sana.
Tuhan… Bolehkan aku ini hidup untuk mereka??? Bolehkan aku tetap melihat senyum mereka..??
Ketakutan dan kesedihanku adalah ketika mereka enggan berkumpul bersama teman-teman sebaya yang mereka lihat jauh lebih mapan dari mereka. Sungguh.. sungguh aku takut jika mereka menjauh dan merasa hina dibanding orang-orang kaya itu sementara sebenarnya mereka lebih mulia dari si kaya…
Oh tuhan…. Jangan biarkan rasa hina mengerogoti jiwa mereka. Tetap senangkan hatinya. Hati si kecilku yang kehilangan masa kecilnya bersama kedua Ibu Bapaknya itu.
Adik-adikku.. anak-anakku…
Kelak, jika kalian melihatku datang, mendekatlah padaku… Jangan pernah takuti aku ya… Senyum dan melihat kalian tertawa adalah kebahagiaan terbesarku…
Teman, seoarng anak, meskipun bukan anak kandung kita, saudara kandung kita, atau pun family dekat kita, mereka tetaplah anak kita. Meraka anaknya semua orang muslimin…
Jangan pernah acuhkan mereka sekalipun ia terlihat tidak seperti layknya setiap orang berpenampilan. Mereka hanya butuh kepedulian kita.. Jikalau pun tidak mampu berbuat banyak, jangan pernah sakiti mereka dengan menunjukkan kebencian, cemoohan, atau pun rasa jijik terhadap mereka..
Bayangkanlah teman,, Betapa pilunya hati mereka ketika melihat kita menjauhi mereka…
Astaghfirullah.. Astaghfirullahal”adziim…
Jangan sampai kita membuat hati mereka sedih kemudian membuat mereka terisak menangis pilu di hatinya…
Allah Arrahman dan Arrahim… Dan semoga sifatnya Allah tetap bermekaran di hati kita, bukan malah luntur dikikis oleh sifat yang ditancapkan oleh syaitan..
Teman, maaf ya kalau kelihatannya seperti menggurui.. si “AKU” tdk bermaksud apa-apa. Dia hanya mencoba menuangkan apa yang ia lihat, cerna, dan ia rasa. Si “AKU” bukan orang yang baik, tp ia ingin menjadi baik. Dan ia sadar bahwa butuh waktu yang lama untuk menjadikannya baik karena begitu jauhnya dia dari kebaikan itu..
Artikel dari
http://www.resensi.net/impian-tuk-sayangi-mereka/2010/07/05/
“Ibu, kenapa pakaian anak itu kotor ? Bukankah dia mau pergi mengaji? Kenapa dia tidak mengganti pakaiannya?” Tanyaku.
”Itu memang pakaian mengajinya. Orang tuanya sepertinya tidak mempedulikannya, makanya dia selalu berpenampilan demikian meskipun untuk pergi mengaji sekalipun. Selain karena kurangnya perhatian, dia itu memang berasal dari keluarga kurang mampu.” Jawab sang Ibu tersebut.
”Kasihan sekali kita melihatnya.” Lanjut Ibu itu.
Sedikit meluangkan waktu dan karena sedikit penasaran, aku bertanya lagi kepada Ibu itu mengenai anak tersebut. ”Ibu,.. Maaf, apa Ibu dari anak itu masih ada? Ayahnya? Bagaimana dengan saudaranya yang lain? Kakaknya apakah ada? Dan rumahnya di mana?
Ibu itu menjawab,”Ibunya masih ada. Ayahnya sudah tidak tinggal bersamanya karena kedua orang tuanya bercerai. Dia itu anak satu-satunya. Jadi, sekarang dia hanya tinggal bertiga bersama Ibu dan neneknya di rumah sederhana yang juga sudah tinggal satu kamar itu akibat gempa kemaren.”
Ya Allah…. Anak sekecil itu harus mendapatkan cobaan yang demikian??
Dia hidup dalam kekurangan materi, lalu apakan harus dia juga hidup kekurangan kasih sayang orang tuanya dan orang-orang sekitarnya??
Pernahkah terfikir oleh kita bahwa di sekitar kita masih banyak peri-peri kecil yang butuh kasih sayang kita??
Tuhan,,, Melihatnya aku takut…
Aku takut jika sekarang, esok, atau sampai saat nanti ia hidup tanpa tahu bagaimana rasa sayang hingga ia menjadi anak yang tidak pandai menyayangi.
Aku takut jika ia tumbuh menjadi anak yang selalu merasa rendah diri karena kekuranggannya dan karena tidak ada seorang pun yang menghargai serta mengacuhkannya.
Wahai engkau bocah kecilku… Adikku…
Andai aku punya istana yang di dalamnya hidup malaikat-malaikat penuh kasih sayang, maka engkau sekalian akan ku biarkan menikmatinya sepuas hatimu walau aku harus hidup di kejamnya panas mentari di luar sana.
Tuhan… Bolehkan aku ini hidup untuk mereka??? Bolehkan aku tetap melihat senyum mereka..??
Ketakutan dan kesedihanku adalah ketika mereka enggan berkumpul bersama teman-teman sebaya yang mereka lihat jauh lebih mapan dari mereka. Sungguh.. sungguh aku takut jika mereka menjauh dan merasa hina dibanding orang-orang kaya itu sementara sebenarnya mereka lebih mulia dari si kaya…
Oh tuhan…. Jangan biarkan rasa hina mengerogoti jiwa mereka. Tetap senangkan hatinya. Hati si kecilku yang kehilangan masa kecilnya bersama kedua Ibu Bapaknya itu.
Adik-adikku.. anak-anakku…
Kelak, jika kalian melihatku datang, mendekatlah padaku… Jangan pernah takuti aku ya… Senyum dan melihat kalian tertawa adalah kebahagiaan terbesarku…
Teman, seoarng anak, meskipun bukan anak kandung kita, saudara kandung kita, atau pun family dekat kita, mereka tetaplah anak kita. Meraka anaknya semua orang muslimin…
Jangan pernah acuhkan mereka sekalipun ia terlihat tidak seperti layknya setiap orang berpenampilan. Mereka hanya butuh kepedulian kita.. Jikalau pun tidak mampu berbuat banyak, jangan pernah sakiti mereka dengan menunjukkan kebencian, cemoohan, atau pun rasa jijik terhadap mereka..
Bayangkanlah teman,, Betapa pilunya hati mereka ketika melihat kita menjauhi mereka…
Astaghfirullah.. Astaghfirullahal”adziim…
Jangan sampai kita membuat hati mereka sedih kemudian membuat mereka terisak menangis pilu di hatinya…
Allah Arrahman dan Arrahim… Dan semoga sifatnya Allah tetap bermekaran di hati kita, bukan malah luntur dikikis oleh sifat yang ditancapkan oleh syaitan..
Teman, maaf ya kalau kelihatannya seperti menggurui.. si “AKU” tdk bermaksud apa-apa. Dia hanya mencoba menuangkan apa yang ia lihat, cerna, dan ia rasa. Si “AKU” bukan orang yang baik, tp ia ingin menjadi baik. Dan ia sadar bahwa butuh waktu yang lama untuk menjadikannya baik karena begitu jauhnya dia dari kebaikan itu..
Artikel dari
http://www.resensi.net/impian-tuk-sayangi-mereka/2010/07/05/
Tuesday, August 03, 2010
Sebuah Cerita tentang Iklhas...insya allah bisa lebih memotivasi kita untuk selalu berbuat iklhas...
SEORANG kawan senang betul shalat sunnah kalau ia berada di kota lain.
Memang, Rasulullah saw mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh,
begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan sholat sunnah dua
rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.
Suatu hari ada seorang teman pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa,
ia mencari masjid atau mushala. Layaknya orang yang mau sholat, kawan
ini mencari toilet dan tempat wudhu. Tapi, langkah dia tiba-tiba
terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja
bernama Fulan, kawan SMP yang sangat pintar. Untuk sementara dia
tertegun. "Tidak salahkah penglihatanku? " tanyanya pada diri sendiri.
Fulan yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudhu itu diamati
beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana
buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala. Fulan
tengah mengepel.
"Assalamualaikum. ..," sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah
mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di
depan mata benar-benar Fulan, kawan dia. Fulan juga mengenali diri
dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.Masih di koridor tempat
wudhu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, "Kenapa Fulan
hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?" Yang ditanya tersenyum.
"Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini? kan,bagus. Dengan saya
menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang sholat
jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya," ujarFulan."
Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Fulan kan dulu pintar.
Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking, kok kayaknya gimana,
gitu....?
Fulan kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi
pinggir tempat wudhu."Gimana kalau Fulan ikutan sama saya?"
"Maksudnya?"
"Ya, kerja sama saya. Fulan bisa saya gaji lebih besar dari
penghasilan sebagai merbot ini. Ngomong-ngomong jadi merbot digaji
nggak?"
"Nggak." "Wuah, apalagi nggak. Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan
terakhir?" "Sarjana elektro," katanya. "Waduh, tambah nggak pantaslah.
Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak
perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja. Maaf ya, Mas. Cuma
rasanya, gimana gitu saya melihatnya...." "Ya, sudah," jawab Fulan,
"Shalat saja dulu, Mas. Nanti kita ngobrol lagi. Sambil ngopi, biar
saya buatkan sekalian."
Kawan ini pun mengambil air wudhu, sambil tetap mikirin Fulan. Kala
dia mau mengambil posisi shalat, seorang anak muda yang tampaknya juga
merbot masjid bertanya, "Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Fulan, ya?"
"Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu...." "Pak Haji, Pak Haji Fulan
itu yang bangun ini masjid. Dia orang kaya di sini...." kata anak muda
tersebut dengan datar. "Orangnya baik, Pak. Rendah hati. Sederhana.
Padahal amalnya buanyak...." Tidak berhenti di sini, si anak muda itu
pun bercerita bahwa Haji Fulan adalah pengusaha alat-alat listrik dan
toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta
masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga
shalat berjamaah dan mencintai masjid. Makanya, kala sukses, dia
membangun masjid kecil ini. Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia
berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang shalat di
masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji
Fulan, temui saja di masjid dia.
Masya Allah. Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah
merendahkan "jabatan" merbot masjid. Apalagi, ternyata Fulan inilah
yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai
"merbot" tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai
pembersih masjid, pasti bakal diluruskan, "Maaf, saya lho yang
membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan
masjid." Masya Allah, Fulan adalah sosok lain. Dia justru
menyembunyikan amalnya.Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu
gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas.
Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara
tentang siapa sebenarnya Fulan. Keikhlasannya membuat Fulan bercahaya.
Bahkan makin bercahaya."...
"...Dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya..."
(QS Al A'raf [7]:29)
--ends--
Memang, Rasulullah saw mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh,
begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan sholat sunnah dua
rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.
Suatu hari ada seorang teman pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa,
ia mencari masjid atau mushala. Layaknya orang yang mau sholat, kawan
ini mencari toilet dan tempat wudhu. Tapi, langkah dia tiba-tiba
terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja
bernama Fulan, kawan SMP yang sangat pintar. Untuk sementara dia
tertegun. "Tidak salahkah penglihatanku? " tanyanya pada diri sendiri.
Fulan yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudhu itu diamati
beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana
buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala. Fulan
tengah mengepel.
"Assalamualaikum. ..," sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah
mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di
depan mata benar-benar Fulan, kawan dia. Fulan juga mengenali diri
dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.Masih di koridor tempat
wudhu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, "Kenapa Fulan
hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?" Yang ditanya tersenyum.
"Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini? kan,bagus. Dengan saya
menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang sholat
jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya," ujarFulan."
Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Fulan kan dulu pintar.
Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking, kok kayaknya gimana,
gitu....?
Fulan kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi
pinggir tempat wudhu."Gimana kalau Fulan ikutan sama saya?"
"Maksudnya?"
"Ya, kerja sama saya. Fulan bisa saya gaji lebih besar dari
penghasilan sebagai merbot ini. Ngomong-ngomong jadi merbot digaji
nggak?"
"Nggak." "Wuah, apalagi nggak. Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan
terakhir?" "Sarjana elektro," katanya. "Waduh, tambah nggak pantaslah.
Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak
perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja. Maaf ya, Mas. Cuma
rasanya, gimana gitu saya melihatnya...." "Ya, sudah," jawab Fulan,
"Shalat saja dulu, Mas. Nanti kita ngobrol lagi. Sambil ngopi, biar
saya buatkan sekalian."
Kawan ini pun mengambil air wudhu, sambil tetap mikirin Fulan. Kala
dia mau mengambil posisi shalat, seorang anak muda yang tampaknya juga
merbot masjid bertanya, "Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Fulan, ya?"
"Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu...." "Pak Haji, Pak Haji Fulan
itu yang bangun ini masjid. Dia orang kaya di sini...." kata anak muda
tersebut dengan datar. "Orangnya baik, Pak. Rendah hati. Sederhana.
Padahal amalnya buanyak...." Tidak berhenti di sini, si anak muda itu
pun bercerita bahwa Haji Fulan adalah pengusaha alat-alat listrik dan
toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta
masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga
shalat berjamaah dan mencintai masjid. Makanya, kala sukses, dia
membangun masjid kecil ini. Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia
berangan-angan untuk berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang shalat di
masjidnya. Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji
Fulan, temui saja di masjid dia.
Masya Allah. Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah
merendahkan "jabatan" merbot masjid. Apalagi, ternyata Fulan inilah
yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai
"merbot" tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai
pembersih masjid, pasti bakal diluruskan, "Maaf, saya lho yang
membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan
masjid." Masya Allah, Fulan adalah sosok lain. Dia justru
menyembunyikan amalnya.Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu
gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas.
Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara
tentang siapa sebenarnya Fulan. Keikhlasannya membuat Fulan bercahaya.
Bahkan makin bercahaya."...
"...Dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya..."
(QS Al A'raf [7]:29)
--ends--
Monday, August 02, 2010
BERPIKIRLAH SEBELUM BERBUAT
suatu hari pak tani dan istrinya berangkat ke kota guna menjual hasil pertaniannya. karena jarak yang ditempuh cukup jauh, maka mereka terpaksa meninggalkan anak bayinya yang masih berumur satu bulan bersama seekor kucing. kucing itu adalah binatang kepercayaan mereka yang telah sekian tahun mereka pelihara dengan baik dan penuh kasih sayang. saat hasil pertaniannya telah habis terjual, sore harinya mereka bergegas pulang. sesampainya di teras rumah, mereka disambut oleh kucingnya yang mengeong tidak seperti biasanya. pak tani dan istrinya terkejut saling pandang dan dengan serta merta berfikir negatif pada perilaku aneh si kucing, apalagi setelah mereka melihat darah segar di moncong mulut kucing dan cakarnya, mereka berpikir bahwa darah itu adalah darah bayinya. tanpa berpikir panjang, mereka pun memukuli kucing kesayangan mereka sampai mati. puas memukuli kucingnya, mereka berlari kedalam kamar untuk mengetahui keadaan bayinya. alangkah kagetnya mereka melihat bayi mereka yang masih dalam keadaan tertidur pulas sebagaimana waktu mereka meninggalkannya. hal yang lebih mengejutkan lagi, ternyata di bawah tempat tidur si bayi terdapat seekor ular yang mati dengan sekujur tubuh terburai dengan cakaran-cakaran yang tak lain adalah cakaran dan gigitan kucing mereka. melihat kejadian itu pak tani menyadari bahwa darah yang ada di moncong si kucing bukanlah darah bayinya melainkan darah dari ular yang mati dengan gigitan dan cakaran kucing, ternyata si kucing telah menyelamatkan si bayi dari intaian ular.
demikianlah gambaran perilaku kita, sering kali kita memutuskan sesuatu tanpa mencari tau dahulu data dan fakta yang sebenarnya, sehingga tidak sedikit diantara kita yang berbuat zalim kepada orang lain. padahal oarang tersebut belum tentu bersalah, bahkan boleh jadi justru ia yang menolong kita.
Ferison dalam buku PROBLEM IS BEATIFUL
demikianlah gambaran perilaku kita, sering kali kita memutuskan sesuatu tanpa mencari tau dahulu data dan fakta yang sebenarnya, sehingga tidak sedikit diantara kita yang berbuat zalim kepada orang lain. padahal oarang tersebut belum tentu bersalah, bahkan boleh jadi justru ia yang menolong kita.
Ferison dalam buku PROBLEM IS BEATIFUL
Tolong Sampaikan Pesanku Untuknya
Tolong sampaikan padanya, aku ada pesan untuknya..
Tolong beritahu dia, cinta agung adalah cintaNya..
Tolong beritahu dia, cinta manusia hanya akan membuatnya alpa..
Tolong nasihati dia, jgn mencintaiku lbh dr dia mencintai Allah
Tolong nasihati dia, jgn mengingatku lbh dr dia mengingat Allah
Tolong nasihati dia, jgn mendoakanku lbh dr dia mendoakan ibu bapaknya..
Tolong katakan padanya, dahulukan Allah krn di situ ada syurgaNya..
Tolong katakan padanya, dahulukan ibu bapaknya krn di telapak kakinya ada syurgaNya..
Tolong ingatkan dia, aku terpikat karena imannya bukan rupa..
Tolong ingatkan dia, aku lebih cinta zuhudnya bukan harta..
Tolong ingatkan dia, aku mengasihinya karena akhaqnya..
Tolong tegur dia, bila dia mulai mengagungkan cinta manusia..
Tolong tegur dia, bila dia tenggelam dalam angan-angannya..
Tolong tegur dia, andai nafsu membuai pikirannya..
Tolong sadarkan dia, bahwa aku adalah milik Allah
Tolong sadarkan dia, bahwa aku masih milik keluargaku..
Tolong sadarkan dia,tanggung jawabnya besar kepada keluarganya..
Tolong sabarkan dia, tak perlu mengucapkan cinta di kala cita-cita belum terlaksana..
Tolong sabarkan dia, karena diri ini enggan didekati karena menjaga batasan cinta..
Tolong sabarkan dia, bila jarak memisahkan hingga menjadi penyebab tumbuhnya kerinduannya..
Tolong titip pesan untuknya, aku tidak mau menjadi fitnah besar dalam hidupnya..
Tolong sampaikan padanya, aku tak mau menjadi penyebab kegagalannya..
Tolong beritahu dia, hanya doa yang bisa kupanjatkan, biarkan Allah menjaga dirinya..
Tolong kabarkan padanya, aku tidak mau mengecewakan dia..
Tolong kabarkan padanya, aku mau dia berhasil dalam impian dan cita-citanya..
Tolong kabarkan padanya, jadilah pendorong semangatku dalam berikhtiar dan berusaha..
Tolong sampaikan padanya, aku mendambakan cinta suci yang terjaga..
Tolong sampaikan padanya, cinta karena Allah tidak ternilai harganya..
Tolong sampaikan padanya, hubungan ini terjaga selagi dia menjaga hubungan dengan Allah..
Tolong sampaikan kepadanya, karena aku tidak mampu memberitahunya sendiri...
Hanya engkau Ya Allah yang mengetahui siapa dia..
Semoga pesanku sampai padanya walau aku sendiri tidak mengetahui siapa dan dimana dia sekarang..
Semoga dia ibarat seekor lebah yang sentiasa memuji keagunganMu..
Tolong beritahu dia, cinta agung adalah cintaNya..
Tolong beritahu dia, cinta manusia hanya akan membuatnya alpa..
Tolong nasihati dia, jgn mencintaiku lbh dr dia mencintai Allah
Tolong nasihati dia, jgn mengingatku lbh dr dia mengingat Allah
Tolong nasihati dia, jgn mendoakanku lbh dr dia mendoakan ibu bapaknya..
Tolong katakan padanya, dahulukan Allah krn di situ ada syurgaNya..
Tolong katakan padanya, dahulukan ibu bapaknya krn di telapak kakinya ada syurgaNya..
Tolong ingatkan dia, aku terpikat karena imannya bukan rupa..
Tolong ingatkan dia, aku lebih cinta zuhudnya bukan harta..
Tolong ingatkan dia, aku mengasihinya karena akhaqnya..
Tolong tegur dia, bila dia mulai mengagungkan cinta manusia..
Tolong tegur dia, bila dia tenggelam dalam angan-angannya..
Tolong tegur dia, andai nafsu membuai pikirannya..
Tolong sadarkan dia, bahwa aku adalah milik Allah
Tolong sadarkan dia, bahwa aku masih milik keluargaku..
Tolong sadarkan dia,tanggung jawabnya besar kepada keluarganya..
Tolong sabarkan dia, tak perlu mengucapkan cinta di kala cita-cita belum terlaksana..
Tolong sabarkan dia, karena diri ini enggan didekati karena menjaga batasan cinta..
Tolong sabarkan dia, bila jarak memisahkan hingga menjadi penyebab tumbuhnya kerinduannya..
Tolong titip pesan untuknya, aku tidak mau menjadi fitnah besar dalam hidupnya..
Tolong sampaikan padanya, aku tak mau menjadi penyebab kegagalannya..
Tolong beritahu dia, hanya doa yang bisa kupanjatkan, biarkan Allah menjaga dirinya..
Tolong kabarkan padanya, aku tidak mau mengecewakan dia..
Tolong kabarkan padanya, aku mau dia berhasil dalam impian dan cita-citanya..
Tolong kabarkan padanya, jadilah pendorong semangatku dalam berikhtiar dan berusaha..
Tolong sampaikan padanya, aku mendambakan cinta suci yang terjaga..
Tolong sampaikan padanya, cinta karena Allah tidak ternilai harganya..
Tolong sampaikan padanya, hubungan ini terjaga selagi dia menjaga hubungan dengan Allah..
Tolong sampaikan kepadanya, karena aku tidak mampu memberitahunya sendiri...
Hanya engkau Ya Allah yang mengetahui siapa dia..
Semoga pesanku sampai padanya walau aku sendiri tidak mengetahui siapa dan dimana dia sekarang..
Semoga dia ibarat seekor lebah yang sentiasa memuji keagunganMu..
Subscribe to:
Comments (Atom)