Thursday, December 29, 2011

Wajah Tampan?

berbagi aja ya.. :D

Wajah Tampan? Percuma!! Jika tanpa keimanan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika kelak dilaknat Tuhan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hari-harinya tanpa amalan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak ada Al Qur’an yang lekat dalam ingatan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tidak memburu keridhoan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hanya melakukan kesia-siaan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hatinya dikotori kebanggaan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak punya kehormatan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika matanya masih jelalatan tak juga mampu tundukkan pandangan
Wajah Tampan? Percuma!! Jika tak bisa mengendalikan hawa nafsunya
Wajah Tampan? Percuma!! Jika hanya untuk tebar pesona dan memikat wanita
Wajah Tampan? Percuma!! Jika enggan mematuhi yang Kuasa dan malah bangga dengan dosa-dosa
Wajah Tampan? Percuma!! Jika akhirnya nanti mendapat siksa di neraka

Ketampanan tak berarti karena tak menjamin kamu akan diridhoi
Ketampanan tak berguna, karena seseorang masuk surga bukan karena tampannya rupa.
Ketampanan pasti akan pudar dan hilang seiring waktu yang berjalan. Sedang apa-apa yang engkau lakukan akan abadi dan pasti dimintai pertanggungjawaban oleh Ilahi.
Ketampanan tak akan bisa menjadi pembela saat engkau dihadapkan pada pengadilan Yang Maha.
Ketampanan tidak akan pernah bisa menjadi pemberat amal-amal kebaikan di mizan. Tak juga bisa meringankan azab yang ditimpakan di hari kemudian.
Ketampanan hanya pemberian… hanya pajangan yang tidak akan memberi pengaruh di dalam alam keabadian.

Coba qta lihatl Bilal bin Rabbah dengan kulitnya yang hitam, lihat pula Amr bin Jamuh dengan kakinya yang pincang, lihatlah juga Abdullah bin Ummi Maktum dengan kebutaan penglihatan.
Mereka mulia di sisi Robb mereka, Rasulullah Saw mengakui keutamaan mereka. Bukan karena tampannya rupa, bukan pula karena sempurna anggota badannya. Namun semuanya karena kesetiaan pada ikrar syahadat yang diucap, kepatuhan pada aturan syariat, melaksanakan kewajiban tanpa keengganan, dan ketaqwaan yang menghunjam sanubari tanpa lekang.

Tidakkah qta belajar pada Yusuf ‘alaihissalam ketika dia digoda untuk berzina ia menolak seraya berkata, “Aku berlindung kepada Allah…” Dan ketika wajah tampannya menarik kaum wanita dia sampai berdoa, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku…”

Tidakkah qta perhatikan perkataan Umar bin Abdul Aziz saat seorang sahabat lamanya -Muhammad bin Ka’ab Al qardhi- menyatakan keheranannya atas penampilan Umar yang berubah setelah menjadi khalifah. Padahal saat Umar menjadi gubernur Madinah tubuhnya indah dan subur, dan setelah menjadi amirul mukminin Umar menjadi kurus, sederhana dan bersahaja. Umar berkata menjawab keheranan Ka’ab, “Bagaimana kalau kau lihat aku di kuburku tiga hari setelah kematianku saat kedua mataku tanggal pada pipiku, dari hidung dan mulutku mengalir cacing dan nanah. Tentu saat itu engkau akan sangat ingkari aku lebih dari pengingkaran dan keherananmu saat ini.”

Wahai pemuda yang bangga dengan ketampanannya…
Wahai pemuda yang sibuk dengan penampilan lahirnya…
Wahai pemuda yang terlena dengan pandangan dan pujian manusia…

Jangan lagi tertipu akan kefanaan dan kenikmatan tanpa keabadian. Bersegeralah menuju penghambaan yang akan memberi keberuntungan. Apa yang akan qta banggakan saat kematian telah menjelang, apa yang akan qta persembahkan kepada-Nya ??

#bahan renungan buat qta semua..


Source : http://www.facebook.com/n/?groups%2Fcommitmentpoltekposindonesia%2F274451385944997%2F&mid=56688ddG4e643d8eG20c4fecG96&bcode=4gRbO7Wa&n_m=kalidam88%40yahoo.co.id

Wednesday, December 28, 2011

Karena Cinta , Ia Muntaber (Mundur tanpa Berita)

dakwatuna. - “Assalamu’alaikum. Akh, pekan depan bisa ngisi pengajian di majelis taklim mushalla Al-Ikhlas akh? Materinya tentang pentingnya akhlaq dalam pergaulan. Syukron”
“Ya. Insya Allah akh”.
Hampir tiap pekan akh Farid mendapatkan sms atau telepon seperti itu. Dari yang sekedar ngisi kultum sampai menjadi khatib Jum’at. Wajar saja, karena ia kuliah di salah satu kampus syariah ternama di kotanya. Namun tidak hanya itu, ia juga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya.
“Akh Farid, pekan depan ada pengobatan gratis dan bazzar juga. Tempatnya di dekat rumah Antum. Bisa kan Antum kondisikan dan sekaligus publikasi buat acaranya.”
“Siap akh. Insya Allah. Berapa target pesertanya?”
“Kalau untuk pengobatan 100 orang Akh, kalau bazar mah satu kampung aja Ente ajak, biar laris dagangan kita.. Haha”
“Haha… Oke bro.. Siap laksanakan.. Kalau begitu Ana duluan. Langsung persiapkan strategi nih. Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”
Farid bergegas meninggalkan masjid, tubuhnya yang tegap meski sedikit kurus melangkah dengan cepat menuju sepeda motor yang diparkir di halaman. Itu memang sifatnya. Selalu bersegera dalam menyambut amal dakwah.
Ini data ibu-ibu RW 4, ini RW tetangga, em.. gimana kalau RW tetangga diajak juga biar tambah rame. . Pikir Farid.
Kamar kosnya yang berukuran 3×3 meter itu dipenuhi dengan berkas dan data warga yang sering ikut dalam kegiatan sosial.
Ada juga data peserta majelis taklim rutin di mushalla. Kamar itu seakan menjadi kantor besar yang penuh dengan gagasan dan rencana masa depan. Malam itu, saat teman-teman yang lain sudah pulang dari “lingkaran malam”, Farid berbincang dengan murabbinya.
Semilir angin dingin yang menusuk menemani perbincangan malam itu.
“Afwan, Ustadz, sebenarnya, ada yang ingin Ana sampaikan sama ustadz.”
“Iya, akh, Tafadhal, Ana siap mendengarkan.”
“Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu, pikiran Ana sedikit terganggu ustadz.
ini mungkin yang menyebabkan kerja-kerja dakwah ini sedikit berkurang.”
“Memangnya, apa yang Antum pikirkan?”
“Dalam setiap agenda-agenda dakwah, Ana selalu bertemu dan bekerja dalam bidang yang sama dengan seorang akhwat. Awalnya sih biasa aja, Ana tetap menjaga hijab dan pergaulan. beliau pun juga demikian sangat menjaga hijab dan pandangannya. Namun lama-lama, entah kenapa, ane selalu menanti-nanti agenda-agenda sosial datang, selalu menanti saat rapat tiba, bahkan kalau belum ada, Ana sendiri yang inisiatif mengadakan agenda. Dan sekarang, pikiran ane jadi aneh ustadz, sering melamun, semangat yang naik turun, dan yang lebih parah lagi, selalu saja ingin bertemu dengan akhwat itu.”
“Antum sedang jatuh cinta akhi..”
“Jatuh cinta?? Apa iyah ini yang namanya cinta ustadz?? Ane hanya kagum aja sama beliau.”
“Iyah, itu cinta, cinta bisa timbul karena rasa kagum. Kalau memang Antum sudah siap, dan berani, Ana bisa bantu akhi”.
“Maksudnya Ustadz??”
“Iya, Ana bantu ta’aruf dengan akhwat itu, daripada Antum galau kayak gini, lebih baik dihalalkan saja”, papar ustadz dengan tegas.
“Aduh, Ana gak berani ustadz, Ana belum siap sepertinya, tabungan Ana aja masih sedikit, Ana masih kuliah sambil ngajar les dan bimbel. Ana masih harus nabung dan siapin mental dulu nih ustadz.”
“Ya sudah, kalau belum siap. nanti kalau udah, Antum bisa hubungi Ana ya”
“Iya Ustadz, insya Allah. Syukron ustadz. Sudah malam. Ana pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
“Iyah. Afwan, alaykumsalam”
Farid menjadi lebih bersemangat, setelah curhat pada malam itu, ia semakin bersemangat dalam aktivitasnya, ia mulai menabung dan mempersiapkan ilmu rumah tangga. Setelah beberapa bulan, akhirnya Farid bertemu dengan ustadznya, persis sama dengan malam ketika ia mencurahkan hatinya kepada sang Ustadz. Setelah teman-temannya pulang dalam lingkaran ukhuwah itu, ia mengutarakan maksudnya.
“Ustadz, afwan, Ana insya Allah sekarang sudah siap, tabungan Ana juga sudah cukup sepertinya. Gimana nih ustadz, kapan kira-kira Ana bisa ta’aruf dengan akhwat itu?”
Sang Ustadz kemudian meminum teh hangat di depannya, sambil mengambil nafas dalam-dalam, ia kemudian bercerita,
“Afwan akhi, sepertinya, Ana gak bisa membantu Antum untuk ta’aruf dengan akhwat itu”.
“Loh, memang kenapa Ustadz? Bukannya waktu itu Antum mau membantu Ana ta’aruf dengannya?”
“Iyah Akhi, masalahnya, akhwatnya sudah dikhitbah oleh lelaki lain. Afwan, kabar ini baru Ana dapatkan minggu lalu, dan baru Ana kabarkan ke Antum malam ini.”
Hening… sunyi… malam itu, Farid terdiam, perasaannya tak menentu, kadang ada rasa menyesal, kadang marah, kadang sabar dan pasrah, segalanya membaur dalam hati dan pikirannya.
Malam itu, ia pulang dengan tertunduk. Badannya yang tegap tiap kali melangkah, sekarang terlihat bungkuk dan lemah.
Ia marah, terhadap dirinya, terhadap kehendakNya yang tidak sesuai dengan harapannya. Malam itu, seakan semuanya gelap, ia sudah tidak bisa melihat dengan jernih, emosinya, amarahnya, rasa kesalnya, telah menutupi hati dan pikirannya.
“Sudah kumpul semua nih, afwan, Ana agak terlambat, tadi anak Ana agak sedikit panas, alhamdulillah, sekarang sudah tidur”
“Afwan, ustadz, akh Farid belum datang, sudah Ana sms dan telepon, tapi tidak ada jawaban.”
“Oh gitu, sudah coba cek ke rumahnya?”
“Belum ustadz”
“Thayyib, gak apa-apa, mungkin beliau telat dan ada urusan, kita mulai aja. MC-nya siapa malam ini?”
“MC-nya akh Irsad, khatirul imaniyah akh Rijal, konsumsi biasa, tuan rumah, hehe”
Setelah hampir satu bulan, akh Farid tidak pernah datang dalam halaqah pekanan, pun dalam agenda-agenda rabthul’am, dan dalam agenda-agenda dakwah. Teman-temannya sudah tidak bisa membujuknya, segala cara sudah dilakukan, namun, tetap tiada hasilnya.
akh Farid semakin sulit untuk diajak kembali. Cinta, telah membuatnya buta, dan mundur tanpa berita.
Perbaharui kembali niat kita dalam dakwah ini,
walaupun cinta kadang datang karena kekaguman,
walaupun cinta kadang menjadi semangat dalam berjuang,
namun, tetapkan cintamu, hanya pada yang Maha Mencintai
Cinta yang mengantarkan kita ke Surga,
Bukan Cinta yang membuat kita mundur tanpa berita,
Bukan cinta karena hawa nafsu semata.
Afwan, kalau ada nama-nama yang mirip atau sama, itu hanya permisalan saja.
.....
wallahua'lam.-

Source : http://www.facebook.com/n/?groups%2Fcommitmentpoltekposindonesia%2F274225279300941%2F&mid=565e8baG4e643d8eG20c4fecG96&bcode=4gRbO7Wa&n_m=kalidam88%40yahoo.co.id

Monday, December 26, 2011

Salah al-Din Yusuf bin Ayub(Shalahudin Al-Ayyubi/Saladin)

Di tenda besar berwarna putih itu, di tengah Perang Salib yang menghabiskan banyak korban, waktu, dan biaya itu, terdengar dialog bernas antara Saladin dan tangan kanannya.
“Kita harus serang mereka sekarang,” usul sang tangan kanan Saladin.
“Tidak, kita buat perencanaan yang matang dulu,” sanggah Saladin.
“Kita akan menang, karena ini sudah kehendak Allah,” teriaknya.
“Kita akan menang karena perencanaan yang matang,” ujar Saladin, sang pemimpin tertinggi pasukan Muslim. “…dan tentu saja karena kehendak Allah,” segera sang pemimpin itu menambahkan.
Diskusi itu ditutup dengan kalimat Saladin: ”Di setiap pertempuran, aku selalu menang, tentu saja dengan kehendak Allah, karena matangnya pe¬rencanaan perang,” tegasnya.
Dialog di atas mengandung banyak hikmah, betapa Saladin sangat menghargai perencanaan, di samping tanggap terhadap anak buahnya. Di dalamnya juga terdapat percakapan filosofis tentang takdir dan peranan usaha manusia (ikhtiar). Dialog itu terekam lewat film Kingdom of Heaven garapan Sir Ridley Scott yang pernah meraih Piala Oscar lewat film Gladiator.
Shalahuddin di film garapan Barat itu diperlihatkan sebagai sosok yang agung dan spiritual. Tengok saja adegan penghujung saat dirinya bernegosiasi dengan Balian dari Ibelin, panglima dari kaum Nashrani yang ketakutan dengan kemenangan Islam di Yerusalam karena akan membalas membantai kaum Nasrani, sebagaimana mereka memperlakukan Muslim seratus tahun sebelumnya. Saladin hanya tersenyum dan menjawab: ’’Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan,’’ katanya.
Shalahuddin Yusuf ibn Ayyub memang dikenal dengan toleransi yang tinggi dan penuh rasa peri-kemanusiaan. Dalam setiap pertempuran, pesannya selalu sama: “minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak”. Dia disegani lawan-lawannya, sehingga dalam Perang Salib III, ada istilah ’Saladin Tithe’ (“Zakat” melawan Saladin). Bersama dengan Raja Baldwin IV, dia menginginkan sebuah kota Yerusalam yang damai bagi ketiga agama besar, sebuah Kingdom of Conscience, Kingdom of Heaven (kerajaan nurani, kerajaan surga).
Sebenarnya, bisa saja keturunan Kurdis (non-Arab) ini menyerang Yerusalem, karena “..200 ribu pasukannya sudah siap tempur…” jelas Tiberias kepada Raja Baldwin. Tapi sang panglima itu tidak melakukannya, karena sudah berkomitmen untuk tidak menyerang Yerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Tapi, seperti terlihat dalam film itu, perjanjian dilanggar oleh raja baru Guy de Lusignan yang memerintahkan Raynald of Chatillon membunuh sekelompok kafilah Muslim yang sedang berdagang dan akan berhaji di Laut Merah. juga saudari Shalahuddin. Dan perang pun pecah. Pada Juli 1187, Saladin menye¬rang Kerajaan yerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin dan berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa.
“Persahabatan”nya dengan musuh terbesarnya, Raja Richard I dari Inggris —Raja Inggris yang mengobarkan Perang Salib III yang dijuluki The Lion Heart— juga legendaris. Kepada Richard —satu-satunya raja yang pernah memukul mundur pasukan Muslim— Shalahuddin mengirimkan tabib terbaiknya —dan saat itu memang dunia Islam memimpin dunia iptek termasuk kedokteran. Saat Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor penggantinya. Bahkan, dalam satu pertempuran, saat berhadap-hadapan dengan Richard dari Inggris pada Perang Arsuf tahun 1191, di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan Richard saling berjabat ta¬ngan dan menghormat satu sama lain.
Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Di tahun 1192 keduanya untuk membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim. Perjanjian Ramla itu menyatakan bahwa Yerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.
Shalahuddin pula yang menghidupkan semangat jihad merebut kota Yerusalam dengan inovasinya yang unik. Dia mengadakan lomba menulis riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dalam rangka memperingati maulud nabi. Dan lahirlah syair Barzanzi yang masih hidup hingga saat ini.
Budi baiknya dikenal tidak hanya di kalangan Muslim, tetapi juga lawan-lawannya. Tawanan diperlakukan secara terhormat dan manusiawi, tidak membuat mereka haus dan lapar. Pernah, saat berperang, Shalahuddin menangkap pasukan Salib yang berjumlah sangat besar sedangkan makanan yang tersedia tidak cukup buat mereka. Dengan lapang dada, akhirnya Shalahuddin membebaskan mereka tanpa syarat.
Panglima kelahiran Tikrit (Irak) pada 532 Hijriah (1138 Masehi) di di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris ini begitu cerdas nurani dan emosinya. Mungkin karena dia menghayati ilmu-ilmu yang didapatnya dari guru-gurunya —seperti ayahnya Najamuddin al-Ayyubi, Nuruddin Zangi dan pamannya Asaddin Shirkuh yang pejabat Dinasti Seljuk dan dekat de¬ngan raja Suriah, Nuruddin Mahmud. —di antaranya menguasai ilmu kalam, fikih, ilmu-ilmu al-Qur’an, dan juga hadits, disamping kemiliteran. Bahkan, ia memberikan catatan kaki (syarah) dan berbagai macam penjelasan dalam kitab hadits Abu Dawud.
Berbeda dengan sultan kebanyakan, dia tidak membuat istana megah untuk dirinya. Tetapi, justru masjid, rumah sakit, dan universitas yang dibangunnya, untuk publik, di Kairo, Mesir.
Setahun setelah Perjanjian Ramla, sepulang Richard ke Inggris, tepatnya 4 Maret 1193, Shalahuddin meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit. Ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Bagh¬dad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham miliknya. Rupanya hartanya lebih banyak mengalir kepada golongan fakir miskin.
Saladin, begitu lidah Barat menye¬butnya, sudah wafat. Tapi perilaku dan kecerdasan nuraninya akan terus di¬kenang, bahkan oleh Barat. Kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, sa¬lah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott. ”Di Eropa” tulis Philip K Hitti, ”dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.”
Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah.
Semoga Bermanfaat.

Source : http://ldkcmt.wordpress.com/2011/12/25/salah-al-din-yusuf-bin-ayubshalahudin-al-ayyubisaladin/

Alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah

Alhamdulillah, Terima kasih Ya Allah...karena telah mengizinkan kami untuk merasakan kehidupan lagi hari ini.. sungguh, tidak dapat kami ucapkan dengan kata-kata indah sekalipun atas nikmat-Nya yang tidak terhitung banyaknya yang telah Engkau limpahkan kepada kami dari semenjak kami lahir sampai detik sekarang ini.

»» Selanjutnya, Adakah diantara kita yang mengetahui berapa lama sisa dari hidup yang kita miliki?
10 tahun ?
10 bulan ?
10 hari ?
10 menit ?
atau boleh jadi 10 detik lagi sisa hidup yang kita miliki.
Allah sudah menentukan di detik mana usia kita berakhir.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata; “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan” (Q.S Al Munaafiquun [63; 10-11)

Ketika detik itu sampai pada kita, apa yang bisa kita lakukan? tidak ada! Mungkin sebuah penyesalan, di dalam ayat tersebut digambarkan sebuah penyesalan orang yang sudah menemui ajalnya.

Kita semua tahu, penyesalan selalu datang kemudian. Hanya saja karena kita belum mengalaminya, tak jarang kita melakukan hal-hal yang sesungguhnya kita tahu itu akan membuahkan penyesalan.

Abu Hurairah menangis ketika sakit menjelang kematiannya.
Lalu, ada yang bertanya,
“Kenapa anda menangis?” beliau menjawab,
“Aku tidak menangisi dunia kalian ini, tetapi menangisi jauhnya perjalananku serta sedikitnya bekalku. Sesungguhnya aku berdiri di atas ketinggian yang akan membawaku ke atas syurga dan neraka, tetapi aku tak tahuke mana aku hendak dibawa.”

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, Aun bin Abdullah berkata,
“Tak ada orang yang bisa menempatkan kematian sebagaimana mestinya, kecuali orang yang melihat hari besok bukan bagian umurnya. Berapa banyak orang yang menghadapi hidup hari ini, tapi ia tak bisa menyempurnakannya sehinggatak sampai hari esok. Sungguh, sekiranya kamu melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kamu akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.”

Coba sekarang anda lihat jam di dinding, jarum jam itu terus berdetak hingga saat baterainya habis, tapi kita tidak pernah tahu pada detik yang manakah jarum itu akan berhenti. Begitu pula dengan jantung kita terus berdetak hingga saatnya tiba, kita tidak tahu di detik yang manakah akhir dari perjalanan hidup kita untuk itulah persiapkan diri kita, agar kapan pun waktu itu datang, kita siap untuk menghadapinya.

Nu’aim bin Hamad meriwayatkan,dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,
“Cukuplah kematian sebagai penasihat, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan.”

Semoga ini menjadi wasilah bagi kita semua. Aamiin.

Kebanyakan Manusia Terlena Sehingga Lupa Bahwa Maut kan datang Menjelang...

Belum ada kata terlambat sebelum DETIK ini terhenti…… MARI BERBENAH

”Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (QS. Al-Baqarah; 197)

Wallahu a’lam bishawab.

Source : http://www.facebook.com/n/?groups%2Fcommitmentpoltekposindonesia%2F272927356097400%2F&mid=56303ffG4e643d8eG209b7f6G96&bcode=4Pdabopx&n_m=kalidam88%40yahoo.co.id

Wednesday, December 07, 2011

HALAL : Jalan Mulus DOA Terkabul

Bagaimana doa kita akan terkabul, jika kita belum menunaikan kewajiban dan menjauhi yang tidak disukai-Nya 

Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِالْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِمَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌوَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anh, ia berkata : "Telah bersabda Rasululloh : " Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.' Kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhan, wahai Tuhan" , sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do'anya". ( Hr. Muslim )

Kata "thayyib (baik)" dalam hadits dia atas berkenaan dengan sifat Allah yang artinya ialah bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak akan menerima amal kebajikannya.

Mari kita cermati hadits di atas. Rasulullah memberikan ilustrasi yang mendalam melalui sosok seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu. Sebagian ahli hadits memberi penjelasan bahwa yang dimaksud adalah perjalanan panjang dan berliku untuk sampai bisa melaksanakan segala hal bernilai kebaikan seperti haji, jihad, dan amaliyah lainnya.

Ilustrasi berikutnya yang Rasulullah berikan adalah menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhan, wahai Tuhan". Gambaran betapa kuat dan semangatnya ia menggantungkan harapan dan keinginannya kepada Allah. betapa yakinnya ia akan hasil usaha untuk meraih sesuatu yang diridhai Allah.

Namun semua usaha itu kandas gara-gara ada sesuatu yang menghambat sampainya apa yang dinginkanya kepada Allah SWT. Perjalanan yang melelahkan itu tidak berarti apa-apa di hadapan Allah tatkala ia berdo'a meski berkali-kali memanggil-manggil Tuhannya. hambatan tersebut hanya satu, karena yang bersangkutan makan, minum dan berpakaian dari hasil yang haram. 

Pelajaran yang bisa kita petik dari hadits di atas diantaranya adalah adanya dua hal yang tidak dapat dipisahkan sampai terqabulnya do'a kita, yaitu : "Amal shaleh dan kehalalan". keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Amal Shaleh yang tercampur makanan, minuman dan pakaian yang haram menjadikan "saluran" do'a tersumbat. Demikian pula sebaliknya, kehalalan tanpa disertai amal shaleh menjadikan do'a layu sebelum berkembang.

Kalaupun ada do'a terqabul di tengah keharaman atau kekeringan dari amal shaleh, itu hanyalah sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan pemberian karunia dari Allah, itupun sangat terbatas.

Mari kita muhasabah diri mengapa sejauh ini do'a yang dipanjatkan seolah tak terqabul, mungkin karena ada satu diantara dua hal di atas yang acapkali kita abaikan. semoga kita semua senantiasa diberi kemampuan untuk menjaga diri agar tetap dengan amal shaleh dan terjaga dari keharaman. amin.

Wallaahu a'lam bish-shawab.

Sumber : http://www.percikaniman.org/category/ust.-dadang-khaerudin/halal-jalan-mulus-doa-terkabul